WAWANCARA STUDIO
Plus Minus Studio
• Studio - Keuntungannya: kedap suara kualitas rekaman baik.
• Kerugiannya yang diwawancarai mungkin serasa diintimidasi oleh semua peralatan. Maka buatlah yang diwawancarai merasa nyaman dan nyaman di studio.
BEDA WWCR TV & CETAK
• Dalam prinsip jurnalistik sebenarnya tidak ada perbedaan. Kriteria layak berita di suratkabar dan di media televisi, relatif juga sama.
• Media televisi penekanan lebih besar pada aspek visual (gambar). Karena televisi adalah media audio-visual.
• Di media cetak, dapat bekerja dan menulis sendiri berita atau artikel dengan byline, mencantumkan nama sendiri di tulisan tersebut. Walau tulisan yang dimuat tetap melalui proses penyuntingan dari segi bahasa ataupun content.
• Di media televisi, tampil secara individual sulit dilakukan, karena semua paket berita atau tayangan dikerjakan secara kolektif. Untuk liputan berita pun minimal sudah harus dikerjakan berpasangan, oleh seorang reporter dengan seorang camera person. Walaupun, bisa juga dilakukan seorang diri sebagai VJ (video journalist).
KEUNTUNGAN & KERUGIAN
• Untungnya, kinerja setiap producer atau jurnalis di media TV sangat transparan. Setiap orang bisa menilai, karena ada ukuran kinerja yang jelas, yaitu rating dan share setiap program. Ini memberi tuntutan pada setiap producer dan crew program yang dipimpinnya, untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja.
• Walaupun, bisa saja didebat bahwa angka rating dan share itu tidak identik dengan kualitas program. Namun, dalam iklim industri media televisi sekarang, bottom line-nya memang bukan pada kualitas program, tetapi pada keuntungan dari pemasukan iklan. Suka atau tidak, itu kenyataannya.
Plus minus Cetak vs TV
• Permanence: media cetak dapat didokumentasikan, dapat disimpan untuk waktu lama, misal utk dikliping. 1 koran juga dapat diasumsikan dibaca lebih dari satu orang.
• Depth : media cetak dapat menyajikan lebih banyak data sehingga memiliki potensi kedalaman pembahasan yang lebih tinggi dibanding media elektronik
OPENNESS
Dari semua media massa, media massa cetak adalah media yang paling terbuka kepada pembacanya. Pembaca atau orang awam diperbolehkan mengirim surat pembaca atau mengirimkan sendiri artikel karangan mereka. Sedangkan keterbukaan untuk mengajukan suatu pandangan, pemikiran terhadap suatu isu atau wacana juga bisa didapat pembaca melalui kolom artikel yang disediakan oleh media tersebut.
• KEKURANGAN media cetak dibanding media elektronik Adalah Speed. Media cetak kalah dibanding media elektronik.
EXPOSURE & FREQUENCY
• Exposure, media cetak memiliki besaran audiens yang jumlahnya relatif lebih kecil dibanding media elektronik
• Frequency, kekurangan media cetak dalam menyajikan informasi dibanding media elektronik adalah frekuensinya atau pengulangan terhadap suatu isu atau informasi. Media televisi atau radio dapat melakukan pengulangan berkali- kali dalam suatu hari mengenai suatu peristiwa penting. Sedangkan media cetak hanya dapat terbit satu kali sehari saja, paling banyak.
• Media televisi dituntut untuk menjadi komunikator yang lebih efektif, mudah di mengerti serta jauh dari kesan bertele- tele. Oleh sebab itulah, penulisan berita untuk media visual tidak sedetil pada media cetak atau media elektronik lainnya .
BAHASA TELEVISI
1. Singkat dan padat, berhubungan dg jumlah kata tapi bisa ditangkap oleh pemirsa. Karena TV menampilkan audio dan penggambaran visual.
2. Sederhana, Pilihan kata atau ungkapan dan kesederhanaan gaya bahasa.
3. Lugas.
4. Menarik.
5. Bahasa dan penulisan harus memperhatikan the art of writing sesuai dengan tingkat wawasan dan intelektualitas pemirsanya
BEDA WWCR TV, RADIO, CETAK
a. Wawancara Pers ( Media Cetak )
• Wawancara pers dapat jauh lebih santai dan pernyataan dapat lebih panjang. Artikel featur surat khabar dan majalah akan meliput isu secara lebih dalam dan memberikan lebih banyak ruang kepada anda. Wawancara pers memiliki persyaratan yang sama dengan media elektronik ditinjau dari sudut kesingkatan dan nilai berita. Sifat wawancara pers yang tampaknya santai dibandingkan dengan wawancara media elektronik dengan mikrofon, kabel, lampu serta rasa urgensi tetapi menuntut kesamaan syarat dan sama dengan media elektonik
B. WWCR TELEVISI
- Sebagian besar orang yang diwawancarai kebanyakan takut akan wawancara TV. TV lebih menuntut dalam arti audiens yg melihat dan mengejar anda.
- Bahasa tubuh, pakaian, latar belakang, dan gerakan anda semuanya memberikan konstribusi pada komukasi dengan audiens. Penampilan termasuk pakaian, rambut dan ekspresi muka penting di TV
- C. WWCR RADIO
• Radio memiliki karakteristik dengan manfaat komunikasi yang tidak dapat ditandingi oleh TV. Radio mengudara 24 jam sehari disebagian besar kota dengan berita setiap jam serta banyak kesempatan bagi anda untuk berbicara kepada audiens dalam acara “ talk show” dan “ talk back”. Radio menawarkan ruang lingkup lebih banyak dalam waktu penuh yang tersedia disebagian besar keadaan. Transmisi radio telah berkembang 3 kali lipat dalam 25 tahun silam dengan lebih dari satu miliar radio penerima didunia. Kira-kira satu untuk setiap 4 orang di bumi. Orang mendengar radio ketika mereka sedang berjalan, jogging, melakukan pekerjaan rumah tangga, di pantai, mandi di pancuran dan bercinta.(Deakin University, 1985:5).
• Info Radio adalah KEKINIAN . Wawancara yang direkam HARUS segera disiarkan Radio memberikan ilusi hubungan “satu untuk satu”. Pendengar merasa jatuh cinta dengan penyiar dan kaget mengetahui bahwa orang lain membagi hubungan yang sama. Satu teks menguraikan bahwa radio “Sesungguhnya merupakan piranti kita untuk menguping percakapan yang terjadi diantara 2 orang“. (King dan Robert, 1973: 24-32)
• Tetapi info radio hanya suara yang berlalu dengan cepat. Radio bukan medium untuk penjelasan yang kompleks atau daftar fakta dan statistik. Radio dapat sangat intim dan hangat. Sedangkan media cetak dingin.
CARA WWCR DI MEDIA ELEKTRONIK
1. Live atau Siaran Langsung,
• Wawancara yang dilakukan dengan mengundang narasumber ke stasiun televisi dan radio yang bersangkutan atau melalui telepon.
2. Wawancara Di Studio
• Wawancara yg dilakukan di studio, pewawancara biasanya akan memberikan anda beberapa pengarahan tentang apa yang harus anda lakukan. Kalaupun tidak, ada beberapa hal yang harus anda perhatikan, seperti:
• · Mikrofon: Pastikan jarak antara mulut dengan mikrofon tidak terlalu dekat tapi tidak terlalu jauh. Jarak ideal antara mulut dengan mikrofon adalah satu kepalan tangan. Pastikan pula anda tidak banyak bergerak karena akan mempengaruhi kualitas suara anda di udara. Masalah ini bisa diatasi jika radio yang bersangkutan menggunakan mikrofon yang menyatu dengan headphone. Oya, satu hal lagi, jangan sekali-kali meniup atau mengetuk-ngetuk mikrofon. Ini bukan pidato di kelurahan hehehehe..
• · Headphone dan kontrol suara: Jangan anggap remeh fungsi headphone. Kegunaan headphone adalah untuk memonitor kualitas suara anda. Jangan segan-segan meminta pada operator atau penyiar untuk mengecilkan atau membesarkan suara di headphone sesuai dengan kenyamanan pendengaran anda.
• · Matikan ponsel anda. Sinyal ponsel bisa mengganggu perangkat elektronik di studio. Matikan
3. WWCR LEWAT TELPON
• Wawancara langsung melalui telepon berbeda dengan wawancara langsung di studio. Kualitas suara telepon jauh lebih rendah sehingga seringkali membuat anda harus bicara ekstra keras dengan pengucapan yang jelas. Itu yang terpenting. Hal lain yang juga harus diketahui:
• · Anda tidak akan langsung mengudara begitu di telepon. Idealnya anda akan di brief tentang apa yang harus dilakukan. Pada saat itu pastikan suara di ujung sana bisa anda dengar dengan jelas
• · Sebisa mungkin minta si pewawancara untuk menghubungi nomor rumah atau kantor dan jangan melalui handphone.
• · Jangan bicara terlalu dekat dengan spiker telepon. Sesuaikan jarak yang nyaman.
Seringkali anda tertarik mendengar suara anda langsung melalui di televisi dan radio.
Seringkali anda tertarik mendengar suara anda langsung melalui di televisi dan radio.
• Namun sebaiknya jangan. Pertama dia bisa menimbulkan suara feedback atau berdenging. Kedua seringkali ada keterlambatan atau delay di televisi dan radio sehingga akan menganggu proses anda mendengarkan wawancara. Kalaupun anda tetap ingin mendengarkan melalui televisi dan radio, pastikan volumenya tidak terlalu besar.
PRE RECOREDED(DIREKAM DULU)
• Untuk kemudian di edit sebelum disiarkan. Ini juga bisa dilakukan di studio televisi dan radio yang bersangkutan atau sipewawancara yang datang kepada anda dan melakukan wawancara dengan alat rekam atau juga melalui telepon. Pada prinsipnya wawancara pre-recorded ini sama dengan wawancara lain. Hanya saja bedanya dia tidak dilakukan secara live. Karena itu perhatikan poin-poin sebelumnya.
• Selain itu ada hal lain yang juga anda perlu perhatikan, terutama berkaitan dengan wawancara yang dilakukan dengan alat rekam. Setiap alat rekam yang digunakan oleh pewawancara memiliki karekteristik yang berbeda-beda. Ada yang masih menggunakan kaset recorder biasa, mini disc recorder atau bahkan IC recorder yang sudah canggih. Para wartawan televisi dan radio itu pasti tahu seluk beluk alat rekam mereka. Namun tidak ada salahnya kalau anda memastikan untuk berbicara dengan jelas. Jangan segan-segan untuk bertanya pada pewawancara anda apakah suara anda sudah cukup jelas direkam.
BEDA WWCR TV DG MEDIA LAIN
1. Suara/Audio
• Perbedaan paling utama tentu saja adalah adanya unsur video atau audio. Sudah pasti dalam wawancara televisi video dan suara anda akan muncul. Dalam wawancara dengan media cetak, suara anda akan di rubah dalam bentuk tulisan sehingga masih memungkinkan adanya perbaikan dalam hal tata bahasa atau jika ada pendapat anda yang bisa disalah tafsirkan. Wartawan yang baik tentu akan menghubungi anda untuk konfirmasi ulang dan dengan mudah perubahan itu bisa dituliskannya. Tapi di televisi ini berarti anda harus merekamkan kembali merekam ulang dan itu tentu perlu waktu.
• Karena itulah kontrol suara sangat penting saat melakukan wawancara televisi begitupun jugan dengan radio, tapi tujuannya bukan supaya suara anda jadi bagus sebagus suara Pak Sambas (alm), tapi lebih kepada agar apa yang anda sampaikan itu terdengar jelas, baik dari segi artikulasi, penyebutan maupun volume suara.
• Jika suara yang terdengar terlalu besar, menjauhlah dari mikrofon dan sebaliknya. ‘Penyakit’ lain yang juga sering muncul berkaitan dengan suara ini adalah apa yang disebut sebagai bopping dan hissing. Bopping akan terjadi jika penyebutan huruf “b” atau “p” terlalu keras atau berlebihan sehingga menimbulkan suara aneh. Hissing muncul pada penyebutan huruf seperti “s” atau “x” yang berlebihan sehingga juga akan terdengar aneh dan menggangu kejelasan suara anda. Atasi dengan mengontrol jarak dengan mikrofon
2. Sekali lewat.
• Televisi dan Radio adalah medium sekali dengar. Karena itu jangan bicara bertele-tele. Pastikan anda bicara to the point walaupun mungkin anda diberikan waktu wawancara yang panjang. Siapkan atau tuliskan poin-poin yang akan anda sampaikan. Asal tahu saja, kemampuan orang mendengarkan dan melihat di televisi dan radio sangat terbatas. Bahkan konon kemampuan orang menangkap pesan yang didengar di radio hanya maksimal 5 menit begitu juga di televisi, setelah itu mereka akan hilang konsentrasi. Jangan pula mendominasi pembicaraan. Biarkan pewawancara yang memegang kendali.
3. Unsur Emosi
• Selama ini mungkin banyak yang berfikir bahwa wawancara melalui radio relatif lebih mudah, apalagi karena wajah anda tidak nampak, seperti di televisi. Tapi percayalah, emosi anda, suasana hati anda, bahkan sering kepribadian anda akan lebih nampak dari suara sedangkan di televisi semosi langsung terlihat pada pemirsa di rumah. Karena itulah dalam wawancara televisi dan radio, penting bagi anda untuk menjadi diri sendiri. Ingat! Anda bukan penyiar. Jadi jangan terlalu memusingkan mutu suara anda. Jadilah diri sendiri. Anda diundang bukan karena suara anda yang berat dan bagus seperti Pak Sambas (alm) atau Olan Sitompul. Anda diundang karena pendapat yang anda sampaikan. Tetaplah santai seperti layaknya bercakap-cakap biasa, tapi tetap kontrol suara anda agar apa yang anda sampaikan itu jelas. Walau ini bukan televisi, tapi jika anda tidak santai, justru akan sangat terasakan oleh pendengar. Bahkan dalam beberapa kasus, suara anda bisa terdengar cempreng.
4. Kejujuran, kehalusan dan keharuan
• Ada tiga unsur vital lain dari seluruh wawancara media, kejujuran, ketulusan, dan keharuan atau empati.
• Sebaiknya selalu jujur terhadap media. Ini tidak berarti harus memberitahukan segala hal kepada wartawan. Tetapi seyogianya menceritakan kebenaran dalam apa yang anda katakan. Juga sebaiknya tidak bersifat menghindar dalam menjawab pertanyaan. Dalam media elektronik, audiens akan dapat mendengar atau melihat hal ini dan akan percaya anda sedang menyembunyikan sesuatu yang buruk. Wartawan akan menyadari dan menghampiri untuk menghantamnya..
• Sebagian besar wartawan sudah terlatih dalam teknik bertanya. Apakah seseorang menceritakan kebenaran. Beberapa orang terganggu jika ditanyakan pertanyaan serupa atau sama beberapa kali. Pertanyaan yang diulang-ulang dengan segala dalam bentuk sudut berbeda hanya merupakan salah satu cara memeriksa konsistensi dalam jawaban.
KEKUATAN AUDIO VISUAL
• Menurut Babin, televisi bekerja dengan prinsip symbolic way. Televisi menggunakan imaginasi, gambar, intuisi, cerita, nyanyian, dan pengalaman-pengalaman yang di-share-kan. Pewartaan iman, menurut Babin, bisa dijalankan dengan dua cara, yaitu katekese (instruksional) dan symbolic way. Namun dalam zaman televisi ini, terlebih bila kita ingin mengadakan pewartaan iman melalui televisi, atau pewartaan/pendalaman iman bagi generasi yang dipengaruhi bahasa televisi, kita harus menggunakan bahasa simbolis. Alasannya, bahasa jenis ini mempunyai pendekatan yang penuh gambar, imaginasi dan cerita. Dampaknya bisa mendalam, menyentuh emosi orang. Tujuan utamanya bukan pemahaman intelektual, tetapi keterlibatan hati dan pertobatan. 11 Iman di zaman sekarang harus ditemukan dalam kesadaran akan pentingnya mata, atau interioritas pribadi manusia. Hanya iman yang dibangun di atas interioritas pribadi akan bertahan dan berkembang. Symbolic way adalah cara yang paling cocok untuk meletakkan suasana yang nyaman bagi sabda Tuhan di zaman modern, di antara generasi TV.
• Kekuatan symbolic way tersebut digarisbawahi oleh Walter Fisher, seorang profesor pada Communication Arts and Sciences, University of Southern California 12. Ia berpendapat bahwa semua bentuk komunikasi manusia perlu dilihat sebagai ceritera yang dibangun lewat sejarah, kebudayaan dan karakter manusia. Pada dasarnya manusia adalah “binatang” yang suka bercerita. Hal ini ditegaskan dengan fakta bahwa sebagian besar tradisi religius diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita yang dikisahkan kembali. Dari sudut pandang naratif, bagaimanapun juga, nilai adalah inti sari dari sebuah cerita. Alkitab, misalnya, berisi banyak cerita.
• William F. Fore dalam buku Mythmakers: Gospel, Culture, and the Media juga menunjukkan pentingnya perumpamaan atau cerita. Perumpamaan adalah cerita biasa yang mengandung kebenaran-kebenaran yang tidak biasa dan amat penting. Metafora adalah kata-kata yang membantu kita melihat hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa. 13 Menurut Fore, manusia mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan baik yang dapat dibentuk melalui sejarah, biografi, kebudayaan dan karakter. Rasionalitas cerita ditentukan oleh koherensi dan sifat patut dipercaya dari sebuah cerita. Koherensi cerita berkaitan dengan bagaimana cerita itu tampak mungkin bagi pendengarnya. Kita sering menilai koherensi sebuah cerita dengan membandingkan cerita yang satu dengan cerita lainnya yang pernah kita dengar sehubungan dengan tema yang sama. Sebuah cerita dapat dipercaya apabila terasakan sesuai dengan pengalaman para pendengar, atau cocok dengan cerita kehidupan yang mungkin akan mereka sampaikan.
• Hal ini disebabkan oleh sifat televisi sebagai sebuah media audio-visual (ada suara dan gambar). Dari segi suara (audio), ada kemiripan televisi dengan media radio. Namun, unsur gambar (visual) inilah yang menjadi ciri khas, sekaligus kekuatan, media televisi.
• Kalau seorang reporter dari suatu suratkabar baru pulang dari tugas liputan, redaktur biasanya langsung bertanya: “Kamu dapat berita apa?” Sesudah jelas, informasi apa yang diperoleh dan mau ditulis, baru si redaktur bertanya: “Ada fotonya?” Di banyak media surat kabar di Indonesia, foto (gambar) lebih sering diposisikan sebagai pelengkap berita, bukan yang utama. Artinya, tanpa satu foto pun, berita itu tetap bisa dimuat.
• Hal yang kebalikannya justru terjadi di media televisi. Jika seorang reporter dengan camera-person-nya baru pulang liputan, si producer (sama dengan redaktur di media cetak) akan bertanya: “Kamu dapat gambar apa?” Aspek gambar lebih diperhatikan karena memang pada gambar inilah letak kekuatan media televisi. Penulisan narasi untuk paket berita di media televisi tergantung pada ketersediaan gambar. Bahkan tak jarang, alur narasi itu sendiri menyesuaikan dengan alur gambar.
• Karena gambar (dan suara) menjadi kekuatan media televisi, seorang producer sering mengeksplorasi dua aspek tersebut, khususnya untuk liputan-liputan yang menghasilkan gambar dinamis dan dramatis. Misalnya, liputan tentang kerusuhan massal, yang disertai dengan perusakan, penjarahan, dan pembakaran. Tanpa banyak narasi, gambar peristiwa itu sendiri sudah cukup informatif dan menarik perhatian pemirsa. Narasi hanya bersifat menuturkan hal-hal yang tidak bisa diceritakan lewat gambar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar